Teraju

Sagu Dalam Tarikan Sejarah Peradaban Manusia Di Papua

Oleh: Bustamin Wahid (Akademisi UNAMIN Sorong & Peneliti Pusat Studi Melanesia)

Dusun Sagu di Papua adalah sistem pertanian berbasis marga, proses pemeliharaan dan budidaya pohon sagu dengan sistem adat dan dikonstruksi dengan tatanan sosial yang tak biasa. Kita bisa lihat di Papua ada dusun sagu biasa dan dusun sagu keramat, penjelasan tentang pembagian ini adalah rangkaian dari budaya kesadaran, lebih tepatnya kita menyebutkan bahwa fungsionalisme simbol adalah upaya untuk menekan daya penguasaan dan hasrat dominasi atas kekayaan alam, sehingga kekayaan alam hanya dipergunakan secukupnya dan seperlunya, semata-mata untuk keberlanjutan hidup generasi.

Penulis sendiri melebihi asik menyebutkan sagu keramat sesungguhnya adalah pembatinan tasawuf lingkungan orang Papua. Tapi kosmologi yang dibangun orang Papua itu hendak berlahan hilang dan menguap ditangan kuasa oligarchy, jadi ditanda bahwa banyak sekali alih fungsi kebun sagu menjadi kebun kelapa sawit. Perkembangan ekonomi batang berganti batang (pohon sagu ke kelapa sawit) memberikan banyak duka dalam lintas sejarah perjuangan bagi masyarakat adat dan endemic di Papua.

Fenomena kontemporer tentang raksasa kapitalisme itu telah di dengungan oleh Rendra dan Romo Mangunwijaya, kemudian Tania Marray Li dan Pujo Semedi membatinkan tema itu dalam karya monumentalnya. Nampak jelas bahwa Tania dan Pujo memberikan kritik keras bahwa kehadiran perkebunan besar yang dibarengi dengan klaim bisa mendatangkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat sekitar itu hanyalah mitos belaka.

Dusun sagu dalam konteks investasi adalah arena menarik bagi industri ekonomi. Bahkan pohon sagu sensifitasnya bisa dijual menjadi hasil riset seminal, analisis sosiologi makanan bahwa sagu tak sekedar mitologi hidup semata, tapi memiliki fungsionalisasi sebagai jaringan sosial umat manusia, setidaknya tentang perkara menyambung hidup dan mengikat solidaritas sosial, dalam ramean makan popeda.

Baca Juga :  Budaya Sebagai Jati Diri Orang Asli Papua

Sagu telah menyejarah dalam peradaban umat manusia di Papua, bahkan dalam sejarah perjalanan dan perjumpaan bangsa Papua dengan bangsa-bangsa luar telah menceritakan kepada kita bahwa interaksi dan pertukaran pangan menjadi aktifitas kehidupan. Sagu dipertukarkan dengan kepentingan keyakinan, pengetahuan dan kemerdekaan manusia, bahkan sagu menjadi cerita atas kebijaksanaan untuk orang Biga di Misol. Tutur lisan tentang sagu juga dikisahkan dalam perjalanan dan raihlah pengetahuan oleh Alfred R. Wallace. Wallace saat perjalanan dari kepulauan Raja Ampat menuju Kalimuri Seram membawa sagu sebagai persediaan makanan. Begitu juga yang dirasakan oleh Otto dan Gesller saat misi gendingnya di Tanah Papua.

Sosok Naturalis seperti Alfred Russel Wallace di episode Juli-September 1860 di Waigeo, dia menyebutkan bahwa warga setempat senantiasa membayar upeti ke kesultanan Tidore dengan burung cendrawasih, kulit penyu dan sagu. Sagu adalah investasi sosial yang sangat penting di lingkaran kekuasaan, itu semua semata-mata menunjukan ketaatan dan loyalititas atas pada pemimpin yang ditujukan oleh orang-orang Raja Ampat. Selain itu juga kita bisa simak bahwa sagu melintasi dalam sejarah perjumpaan ekonomi antara Papua-Maluku dan entitas orang Bugis di Sulawesi.

Tutur lisan lain juga kita jumpai di masyarakat pesisir di Misol Raja Ampat tentang sagu. Sagu juga di nikmati oleh Kamma saat menuju ke kepulauan Misol bersama Kapaital Lau Fafanlap (Hasan Soltif). Rombongan sejenak singgah di daerah Kasim untuk membeli sagu sebagai persediaan dalam perjalanan.  Di awal abad ke 20 saat orang-orang kampung Biga meyakini tentang agama Kristen, sagu lah menjadi simbol ucapan terima kasih  kepada penginjil-penginjil dari Ambon, secara adat pemberian sebagian hasil dan lahan sagu kepada para penginjil sebagai bentuk penghormatan dan ucapan terimakasih.

Baca Juga :  Silaturahmi Dengan Para Tokoh Agama, Ini Pesan Menyejukkan Pangdam XVII/Cenderawasih

Banyak pembelajaran yang lahir dari proses perbendaharaan ilmu pengetahuan, kali ini kita bisa baca atas apa yang telah di tuliskan oleh seorang Barbara Watson Andaya (2021), ahli sejarah asia tenggara ini menyoal peristiwa sejarah kawasan dengan perspektif gender. Di satu sub-tema Barbara mengulas tentang perempuan sebagai penghasil bahan makanan, percikan sumber yang dia bicara dari sudut pandang orang Papua Selatan (suku Asmat).

Suku Asmat Papua memaknai bahwa sagu sebagai pahlawan budaya laki-laki, dan para lelaki mempererat hubungan pertamanan di antara sesamanya dengan saling bertukar larva dari telur kumbang sagu (kumbang Capricorn) yang hidup di batang pohon sagu. Ada juga pertalian yang begitu kuat dalam tarikan sejarah lisan di Papua bahwa pohon sagu metamorfosis tubuh perempuan, sedangkan uapnya menjelma menjadi bubur sagu menjadi sokongan kehidupan masyarakat Asmat. Istri dari seorang ahli Maluku Leonard Y. Andaya ini mengukuhkan kepakarannya dalam karya “The Flaming Womb: Repositioning Women in Early Modern Southeast Asia”, yang kini menjadi diskursus masyarakat dunia.

Ingatan sejarah perjuangan integrasi Papua ke NKRI, pada tanggal 19 Juli 1962 PG-500 tiba di kampung Umerah Pulau Gebe, pasukan ditetapkan tinggal sementara di kampung Umerah untuk muda mengikuti briefing dari perwira-perwira Suadi-1 dan mengikuti latihan kilat selama tiga  minggu. Atas perintah panglima Mandala mayjen Soeharto, bila mana cuaca laut membaik, supaya PG500 segera menuju ke daerah sasaran pulau Waigeo, dengan rute perjalanan melalui rute pulau Yu, Sankoren dan kabare dengan kendaaran tiga perahu giok (perahu nelayan) masing-masing perahu di pasangan satu mesin jonson dan mercuri 50 PK dengan cadangan laua dan dayung. Pendaratan di Waigeo terjadi baku tembak dengan pihak Marinir Belanda selama 1 hari penuh, tapi pihak PG-500 tidak ada yang korban. Dalam laporan menerangkan bahwa PG-500 tertahan di pulau Waigeo selama 1 bulan oleh karena pihak patroli Belanda selalu aktif melakukan aktifitas mengintai dengan kapal perang dimiliki Belanda, dasar pengawasan Belanda yang ketat berefek pada pasokan akan yang dimiliki pasukan gabungan Indonesia, satu-satunya cara dan jalan untuk patok/pukul sagu sebagai kesediaan logistik untuk kebutuhan berdurasi lama menuju daerah kepala burung Sausapor dan Saoka awal september 1962 (baca: Faroek, 2005).

Baca Juga :  Ambiguitas Penanganan Pelanggaran Pidana Pemilu

Sejarah bangsa yang bernama Indonesia dari Sabang sampai Merauke, punya cerita panjang tentang perdebatan, diplomasi dan bahkan pertumpahan darah. Tapi sedikit orang yang tahu bahwa perjuangan Indonesia merebut Papua dari tangan Belanda tidak terlepas dari dukungan logistic sagu dari pulau Gebe. Ingatan sejarah dan kejujuran kita tentang pentingnya sagu, tak sekedar makanan untuk memenuhi dahaga dan kelaparan. Tapi “sagu” lebih dari itu adalah makna perjumpaan, pengetahuan dan kemerdekaan, jika sejarawan seperti Harari bicarakan tentang keadaban dan cemerlang nya orang Amerika dan gandum satu sisi. Maka di Papua sagu juga hal yang penting tentang peradaban dan kemajuan di sisi lain.

Cerita soal sagu akan kita di hadap-hadapkan dengan “popeda panas dan kuwa kuning”, butir-butir keringat bermunculan dari sudut pori-pori yang terkecil sekalipun. Begitulah jadinya jika kita meriwayatkan seorang anak belia yang kecanduan sagu dan tarikan sejarah sagu di Papua.

Penulis : Bustamin Wahid
Editor : Fiqram
Sumber :
Tetap terhubung dengan kami:
Rekomendasi untuk Anda
Komentar:

Komentar menjadi tanggung jawab Anda sesuai UU ITE

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Rekomendasi untuk Anda