Bahasa Ibu Sebagai Identitas Orang Asli Papua

Selasa, 27 Februari 2024 - 18:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Sepi Wanimbo/istimewa (detikindonesia)

Foto: Sepi Wanimbo/istimewa (detikindonesia)

Oleh : Sepi Wanimbo – Wakil Ketua Umum BPP – IPMI

Jika kamu berbicara dengan seseorang dengan bahasa yang mereka mengerti, maka hal itu hanya sampai pada pikiran mereka. Tapi, kalau kamu berbicara dengan bahasa ibu, maka hal itu akan sampai di hati

Bahasa merupakan alat komunikasi. Fungsinya jadi lebih konpleks, yaitu sebagai sarana penyampaian ideologi yang terejabantah dalam bentuk karya sastra. Bahasa dapat dipelajari melalui karya sastra, yang sarat dengan kandungan pemikiran dan ideologi. Dua unsur yang kemudian dianggap sebagai identitas suatu bangsa. Dalam hubungan antara bangsa, jati diri menjadi penting karena menyangkut keberlanjutan eksistensi suatu bangsa dalam konteks global. Kepentingan identitas menjadi utama, jika kita ingin menunjukkan diri sebagai bangsa dalam gempuran globalisasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahasa itu menjadi penting untuk memperkuat identitas anak sebagai generasi muda Papua. Saat anak – anak terbiasa berkomunikasi dan membaca dalam bahasa ibu ( bahasa daerah ), mereka mendapatkan wawasan kebudayaan, nilai – nilai, dan kearifan lokal. Anak juga keterhubungan dengan akar budayanya. Mereka memahami tradisi yang diteruskan lintas generasi dan menghargai nilai – nilai yang dianut bangsanya.

Biarlah identitas bangsa yang termanifestasi dalam bahasa, nilai – nilai, serta cara pandang hidup itu tetap tinggal dalam diri anak – anak Papua. Di mana pun kelak mereka berada, biarlah identitas Papua yang selalu mereka tegakkan. Dengan begitu, mereka tidak akan mudah goyah dan terbawa arus pergaulan “Modern” yang tak terbendung.

Hal ini sejalan dengan agenda UNESCO dalam perayaan Internasional Mother Language Day 2024, yang mengusung tema “Multilingual education is a pillar of learning”. UNESCO menyatakan bahwa saat ini, 40% popularitas dunia tidak memiliki akses terhadap pendidikan dalam bahasa asli mereka. Bahkan di benerapa negara, angkanya meningkat menjadu 90%. Sementara itu, pendidikan multibahasa akan meningkatkan mutu pembelajaran.

UNESCO menegaskan bahwa menggunakan bahasa asli meningkatkan pemahaman dan interaksi peserta didik, mengembangkan pemikiran kritis, memperkuat kepercayaan dan harga diri, serta mematik partisipasi aktif. Juga membuka pintu pembelajaran antar generasi, revitalitasi bahasa, serta pelestarian budaya dan warisan tak benda.

Baca Juga :  Sepi Wanimbo, Dapat Mandat DPP PPKL & AB Pimpin Ketua DPD di Papua Pegunungan

Untuk itu, kibarkan Trimatra Bahasa yang dipopulerkan oleh Badan Pengembangan dan Pembunaan Bahasa, yaitu “Utamakan bahasa ibu, lestarikan bahasa daerah dan kuasi bahasa Indonesia, Asing”. Tanamkan dalam diri mereka pentingnya mengutamakan bahasa ibu dan melestarikan bahasa daerah.

Bahasa ibulah yang akan diucapkan oleh seseorang tanpa berpikir berkali – kali cara mengucapkannya. Seolah bahasa ibu sudah menjadi satu dengan ciri orang tersebut. Itulah cara bahasa ibu membuat individu satu dengan lainnya saling mengenali dan berkomunikasi serta media untuk memahami lingkungan sosial di sekitarnya.

Perlu dipahami, bahasa ibu tidak merujuk pada bahasa yang dipakai oleh mayoritas masyarakat pada daerah, wilayah atau negara tertentu. Bahasa ibu adalah bahasa yang dipahami seseorang saat dirinya pertama kali mengenal dan memahami bahasa serta belajar bicara.

Artinya, bahasa yang dipahami dan diucapkan pertama kali oleh seseorang itulah yang menjadi bahasa ibu orang tersebut misalnya, saya sendiri terlahir di lingkungan masyarakat suku Lani bahasa ibunya adalah bahasa Lani karena bahasa yang pertama kali dipahami dan diucapkan adalah bahasa Lani begitupun dengan etnis ataupun suku lainnya di Papua.

Jadi, tidak ada batasan atau keharusan untuk menjadikan bahasa tertentu sebagai bahasa ibu seseorang karena memang proses tidak dapat lepas dan dipisahkan dari situasi lingkungan dan budaya tempat individu belajar bahasa pertama kali.

Orang dari Amerika, Jepang, Australia, Belanda, Korea, Cita, Indonesia yang sekarang bersama – sama kita juga tetapi negara lainnya masuk ke tanah air Papua. Pasti mempunyai Visi yang berbeda dengan Orang Asli Papua sehingga akan nomor satukan kepentingan mereka lalu nilai – nilai budaya, bahasa ibu yang dimiliki oleh Orang Asli Papua tidak akan pernah diperhatikan yang ada akan diabaikan tetapi ingat bahasa ibu, budaya yang bisah dijaga, dilestarikan, dirawat sebagai pemberian Tuhan itu hanya orang asli yang berambut keriting berkulit hitam sendiri.

Baca Juga :  Perppu Pemilu, Cuma Akomodir 3 Provinsi Baru atau Ada Misteri Lagi?

Kita lihat sekarang ini bahasa ibu yang memiliki sudah mulai terkikis oleh bahasa dan budaya orang lain atau bahasa orang luar ini realitas yang saya lihat hampir setiap hari di jalan, pasar, kampus, kantor, gereja, komunitas, serta di rumah selalu mengunakan bahasa Indonesia lalu bahasa ibu dinomor duakan maka generasi muda lupa jati diri dan identitas.

Selamatkan bahasa ibu sebagai identitas, jati diri dan warisan budaya moyang Orang Asli Papua. Wajib selamatkan memulai dari rumah, para – para adat, komunitas, gereja, serta di setiap sekolah ditingkat SD, SMP, SMA sampai di tingkat perguruan tinggi.

Saya melihat beberapa daerah seperti di Biak, Jayapura, Jayawijaya Wamena pemerintah daerah sudah melakukan terobosan untuk selamatkan bahasa ibu dan budaya yaitu mereka masukan dalam kurikulum untuk mengajar di setiap sekolah tentang pelajaran bahasa ibu serta budaya cara dan kebijakan ini harus dilakukan oleh Pemerintah di Kabupaten Kota dan Provinsi lain juga di tanah Papua. Supaya bahasa ibu dan budaya yang sedang hilang ini bisah di selamatkan dan dipertahankan.

Pemerintah Provinsi yang ada di tanah West Papua dari Sorong – Merauke harus berpikir bijaksana, cerdas dan melihat secara utuh persoalan besar bahasa ibu dan budaya sedang punah ini untuk pertahankan nilai – nilai itu pemerintah daerah wajib bangung sekolah berpola budaya Papua. Supaya generasi muda asli Papua bisah belajar bahasa ibu dan budaya sendiri.

Jangan malu dan minder berbahasa ibu dimana tempat Anda berada karena bahasa ibu yang kita memiliki tidak dimiliki oleh daerah lain, wilayah lain dan bangsa lain, bahasa ibu yang Tuhan kasih buat Orang Asli Papua. Itu unik sehingga jagalah bahasa ibu, mempertahankanlah bahasa ibu, sebab mengenal bahasa ibu, mengenal jati diri, mengenal bahasa ibu, mengenak asal usul, mengenal bahasa ibu, mengenal nenek moyang, mengenal bahasa ibu, mengenal garia keturunang dan mengenal bahasa ibu, mengenal bangsamu.

Baca Juga :  Kembali ke UUD 1945 Asli: Selamatkan Maritim Indonesia

Bagi Orang Asli Papua. Yang tak paham bahasa ibu dan budaya sendiri berarti Anda kehilangan jati diri, identitas diri, dan menyangkal diri sendiri sebagai anak Papua maka belajarlah bahasa ibu sebagai pemberian Tuhan. Dan mengunakan bahasa ibu untuk melayani sesuai profesi yang Tuhan kasih pada Anda.

Banggalah dengan bahasa ibu yang telah diturungkan lintas generasi. Kokohkan identitas kepapuaan dalam diri anak – anak generasi muda, sehingga ke mana pun mereka pergi nantinya, dengan bangga mereka akan mengatakan, “saya Orang Asli Papua”.

Kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan – perbuatan besar yang dilakukan Allah. Ini adalah tentang peristiwa pentakosta. Setelah Roh Kudus datang dan diberikan kepada para Rasul, orang – orang yang berasal dari berbagai bangsa bisa mendengar para Rasul ini berbicara dalam bahasa mereka masing – masing. Padahal, orang banyak itu terdiri dari berbagai suku dan bahasa. Dan, apa yang mereka dengar adalah tentang perbuatan – perbuatan besar yang dilakukan Allah. Jadi, disitu Iman sangat berperang menguatkan orang – orang yang mendengar. Mereka sangat mengerti perbuatan Allah karena hal – hal itu didengar dalam bahasa mereka. Dan apa yang terjadi? Ada 3.000 orang di baptis karena mereka mendengar khotbah para Rasul, terutama Petrus. Jadi orang Kristen akan memiliki pemahaman Iman yang kuat jika mereka memiliki firman Tuhan dalam bahasa yang mereka pahami karena sangat memahaminya, mereka jadi sangat meresapinya. Firman itu tidak hanya sampai dalam pikiran mereka, tetapi juga ke hati. ( Kisah Para Rasul 2 : 1 – 13 )

Selamat membaca bagi kita semua Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari DETIKIndonesia.co.id. Mari bergabung di Channel Telegram "DETIKIndonesia.co.id", caranya klik link https://t.me/detikindonesia, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Penulis : Sepi Wanimbo
Editor : Mufik
Sumber :

Berita Terkait

Fransiscus Go dalam Survey Calon Gubernur NTT
Jodoh Maluku Utara Adalah Taufik Madjid
Anak Indonesia, Harapan Peradaban Dunia “Menyambut Bonus Demografi 2045”
Jangan Permainkan Suara Rakyat Papua
OAP Wajib Selamatkan Bahasa Ibu Sebagai Identitas Warisan Budaya
Wujudkan Budaya Politik Bersih dan Beretika dalam Pesta Demokrasi
Selamatkan Generasi Muda Papua Dari Ancaman Bahaya Alkohol Dan Narkoba
Apa Sandiaga Uno Ingin Menciptakan Mafia Sambil Menghancurkan Industri Pariwisata?

Berita Terkait

Jumat, 19 April 2024 - 21:31 WIB

Sempat Gegerkan Warga Hinai, Penemuan Jasap Pria Didalam Parit Ternyata Warga Binjai

Jumat, 19 April 2024 - 18:52 WIB

Walikota Ali Ibrahim Buka Secara Resmi Musrenbang RPJPD Kota Tidore Kepulauan Tahun 2024-2045

Jumat, 19 April 2024 - 18:46 WIB

Bertarung Pilkada Halsel Hj Eka Dahliani Usman Ambil Formulir pendaftaran Dari Partai PKB

Jumat, 19 April 2024 - 18:40 WIB

Tim Pengamanan PT Indonesia Power UBP Pangkalan Susu Lakukan Pengamanan Kelistrikan

Kamis, 18 April 2024 - 17:37 WIB

SBGN Malut Ajak Karyawan Peringati Hari Buruh 1 Mei 2024

Kamis, 18 April 2024 - 17:33 WIB

DPC PKB Halsel Buka Penjaringan Bakal Calon Kepala Daerah Besok

Kamis, 18 April 2024 - 13:53 WIB

Warga Hinai Dikejutkan Penemuan Sesosok Mayat Pria Membusuk Didalam Parit

Rabu, 17 April 2024 - 18:11 WIB

Ketum DPP Surosowan Indonesia Bersatu Beri Konsultasi dan Bantuan Hukum Gratis Bagi Masyarakat Tidak Mampu

Berita Terbaru